Senin, 05 November 2007

Komen2 aa ka Jeni

Posting Komentar Di: Journal de Ajourdhui
"Manusia dalam Melodrama Serba Salah"
3 Komentar - Tampilkan Posting Asli
Tutup komentar

emanrais berkata...
Di Cigudeg Bogor, ada kampung Siranggap. Para remaja umumnya sudah menikah karena masyarakat gak mau ada "kecelakaan". Akibatnya kehidupannya seperti ayam hutan. Mereka baru melek klo berani hijrah ke kota. Sementara isteri remajanya dibiarkan menjanda atau menikah lagi. Tapi namanya juga cangehgar saba kota, begitu kehidupan ekonominya membaik di kota besar mereka malahan mencari isteri baru. Kesulitan hidup akan kian terasa dengan semakin tua usia. 200 meter dari sana ada SD dan SMPN. Sayangnya mereka gak terambah. Pendidikan rata2 3 tahun pesantrenan tapi keburu terputus buat segera pengantenan. Ini juga melowdrama yang serba salah gak ya Jeni?
2007 November 4 06:57

Jeni berkata...
Saya baru tahu bahwa kehidupan semacam ini masih ada di Jawa, apalagi di Bogor. Sayang sekali ya. Bahkan terputus pendidikan untuk kepentingan pengantenan hhmmmm :(, rasanya mereka memang terlalu cepat mengambil keputusan atau bisa juga faktor sudut pandang yang kurang luas. Mungkin di Cigudeg Bogor butuh konsultan pendidikan dan pengantenan :D
2007 November 5 03:46

emanrais berkata...
Kita harus survey dulu, karena aa dah lama gak kesana. Terakhir waktu bantu urus PLN masuk Siranggap 5 tahun yang lalu. Iya yah, kenapa aa gak kesana aja lagi. Lalu bikin mobile blog baru berjudul Siranggap. Klo iya butuh, apa Jeni dah siap jadi konsultan pendidikan dan pengantenan?
2007 November 5 05:39





Posting Komentar Di: Journal de Ajourdhui
"DO'A"
4 Komentar - Tampilkan Posting Asli
Tutup komentar

pangapora berkata...
Lha! Aku selalu bilang dalam doa main-main: "Ya Allah, ampunilah dia yang telah menyakitiku. Sebab aku, tak akan pernah mampu mengampuninya." Haha....
2007 Oktober 10 19:29

emanrais berkata...
Lho kok doa kita sama sih Jeni. Bagi saya berbohong lalu berhianat itu satu garis lurus. Makanya suka ikutin garis biar bisa diputus buat keperluan pengobatan. Tapi pembohong itu pintar dan licik lho. Klo gak eling lan waspada, kita juga tetap aja akan diembat sampai terasa pisan pedih dan perih. Tak kutip doanya boleh ya?
2007 Oktober 20 04:18

Jejak Pikiran berkata...
@eman rais : Boleh pak, silahkan...
Quote emain rais "Makanya suka ikutin garis biar bisa diputus buat keperluan pengobatan."
Pengobatan apa nih?
2007 Oktober 20 20:06

emanrais berkata...
Matur kesuwun. Sudah kok Jeni. Vide http://alifkacici.blog.com/ Ceriteranya saya suka berlakon pura2nya jadi konsultan masalah gangguan emosi. Buat memutus itu perlu saat tepat. Makanya saya ikuin garis boongnya dulu, meski makan waktu smp bulanan juga. Gitu lho. Andai saya punya pic close-up Jeni. Tentu dah saya dalami jejak pisik, psikis, emosinya. Manatau ada benarnya.
2007 November 3 23:58





Posting Komentar Di: Journal de Ajourdhui
"QUO VADIS MESIN DAN FALSAFAHNYA"
3 Komentar - Tampilkan Posting Asli
Tutup komentar

emanrais berkata...
Iya tau, aa (manggilnya aa aja deh ya biar semangat belajarnya menggebu lagi, jangan Bapak) boleh Copy tapi gak boleh Paste. Makanya pelan2 aa link aja ke http://adelwulan.blog.com/ Boleh kan Jeni? Baca tulisan Jeni, aa kayak man-over-board deh. Semakin terminum airmu, semakin dahaga aja nih.
2007 November 4 06:12

Jeni berkata...
wew...haha..
Untuk linknya, silahkan saja tapi ngomong-ngomong adelwulan di blog itu, saudaranya ya?
2007 November 5 03:18

emanrais berkata...
Wew...haha...? Susah deh nangkap berapa sih usiamu Jen? Iya deh 21. Adelia Wulandari itu anak aa baru masuk FIB Sejarah UI. Kenapa aa link? Biar adel mo nimba ilmu dari mbak Jeni, kayak bapaknya yang TOB ini lho. Entah klo aa GR, tapi dengan blog itu aa serasa ikutan juga kul di UI deh. Aa berharap Adel bisa sepintar mbak Jeni kok. Btw, kok Jeni bisa akrab sama Sobron Aidit sih? Baca atau kenal? Hehe, aa kayak kintel aja deh ya.
2007 November 5 06:23


Posting Komentar Di: Journal de Ajourdhui
"SOBRON AIDIT DALAM KENANGAN"
3 Komentar - Tampilkan Posting Asli
Tutup komentar

emanrais berkata...
Maaf ya Jeni, klo aa terkesan begow sebab taunya hanya seorang Dipa Nusantara disaat aa pemuda baru tamat SMA. Aa malahan masih menyimpan sekelumit pengalaman aneh disaat2 dialektis seperti itu. Kemana aja Sobron dan Asahan saat itu ya. Kok namanya baru aa baca dari artikel Jeni ini. Dunia ini sering aneh. Klo gitu lupakan juga hasrat aa buat "membaca" kondisi pisik psikis emosi dari pic close-up Jeni. Tapi aa tulus kok seperti yang biasa aa lakukan buat posting di blog tebakmanggis. Tapi terusin nulis berbobotnya atuh neng Jeni.
2007 November 5 07:14

emanrais berkata...
Sekelumit kenangan saat muda akan masa2 itu, aa simpan di http://andravega.blogspot.com/ Baca deh celoteh Andra tentang sosialisme kepada Alfa Gumilang.
2007 November 5 07:18

emanrais berkata...
Hehe, jadi ingat akan sosok Iking Sudjana teman semasa SMP di Bandung. Suatu hari di bulan Oktober 1965 datang bersama seregu Mobrig (Mobile Brigade) teman2nya yang lagi tugas di kompleks Menteri di Slipi. jalan kaki ke Kebon Kacang, sambil membawa secoret alamat hasil tulisan aa di buku notes. Tentu saja mereka diiringi penduduk yang ingin melihat penangkapan. Begitu berita itu sampai ke bapak dan ibu yang tampak gemetar, "klo Eman harus pergi, maka pergilah dalam keadaan suci." Anehnya aa tenang aja saat berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat. Diluar terdengar percakapan antara ayah dengan seregu pasukan berseragam tempur dengan bedil terhunus siap tembak itu. Ayah tampak sembab waktu menyampaikan kepastian khabar pencarian aa itu. Begitu aa keluar menemui, pakai hemp kuning muda dan celana pendek kelabu sisa seragam SMP, pinggir kali Cideng dipenuhi massa yang terdiam dalam hening. Tapi tak tampak panser yang biasa disiapkan buat angkut aktivis yang akan diambil. Tiba2 salah seorang bertanya. "Man, inih Eman Rais kan? Masih inget teu ka urang? Piraku geus poho." Ucapnya seraya menyenderkan Jungle-rifle ke tembok dan membuka helmet tempurnya. Begitu mengenali wajah yang coreng moreng itu, aa lantas saja berseru, "Iking Sudjanaaaaa." Lalu kami berpelukan diiringi koor histeria massa, "Yaaaaach..." Lalu sebagian demi sebagian pada berlalu meninggalkan areal jalan Kebon Kacang XXX itu. Aa ma Iking shahib saat SMP ikut pagerbetis di gunung Manglayang semasa 1960-1962 buat menangkap Karto Suwiryo itu.
Biasalah siswa korban politik.
2007 November 5 07:48

0 komentar: